Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi.
Namun jiwa tetap ada di tangan cinta...
terus hidup...
sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan...


(Kahlil Gibran)

Tuesday, June 5, 2012

Yah, beliin PS-2 donk

"Yah, aku dibeliin PS-2 donk.." rajuk Daffa, anakku yang pertama, disela-sela makan siang kami di sebuah warung padang. 

Untuk kesekian kalinya Daffa minta dibelikan PS-2, game yang hanya bisa dimainkan-nya ketika dia bermain di rumah Evan atau Jordan di hari libur sekolah. 

Selintas aku melirik istriku yang duduk persis disebelahku, tidak ada reaksi karena sibuk dengan Rafi yang mencoba meraih teh botol diatas meja. 
Siang itu kami berencana untuk mengunjungi ayah dan ibuku (yang dipanggil engkong dan nyai oleh Daffa) di Cipondoh. Perut yang lapar karena tidak sempat makan lagi di rumah, membuat kami mampir di tempat makan favorit-nya Daffa, rumah makan padang. Ternyata tidak gampang mencari warung padang yang buka di hari lebaran haji. 

Setelah melewati beberapa warung padang yang tutup di sepanjang jalan menuju Cipondoh, akhirnya kami menemukan warung padang kecil yang berbaik hati tetap buka dihari libur muslim. 

 "Memang PS-2 harganya berapa, Ka ..?" tanya-ku sambil mencocol daun singkong dengan sambel ijo khas padang. 
 "Kalo PS-2 itu 2 juta, Yah..." jawab Daffa cepat. 
 "Oo, gitu... kalo PS-1 berapa ?" 
"Kalo PS-1 ya... 1 juta " jawabnya dengan muka sok tahu. 
"hehehe, kalo gitu kita beli PS-nol aja Ka, harganya-kan nol juta..." ledek-ku dengan senyum kemenangan. 
 "Yaaa, mana ada PS-nol Yah. yang bagus tuh PS-2. kemaren aja aku main dirumah Evan, aku menang Yah. Aku-kan pake Nissan GTR, Evan pake Ferrari F430. eeh, mobil Evan aku ancurin Yah..." cerita Daffa dengan penuh semangat. 

 "Kalo PSP berapa Ka ..?" istriku yang sudah selesai makan dan menggantikan-ku memangku Rafi ikutan nimbrung. 
 "PSP-mah kecil Mi, PS-2 aja bagus..." jawab Daffa masih dengan semangat 45. 
 "Memang kalo ayah beliin PS-2, kakak mo ngasih hadiah apa buat ayah ?" pertanyaan pancingan yang sangat dihapal istriku. 
"Hmmm, mulai deh coaching-coachingan lagi..."guman istriku sambil senyam-senyum tanpa arti. 

"Ntar aku kasih gambar, Yah. Aku sekarang udah bisa gambar Honda CRX" jawab Daffa dengan bangga. 
 "Gak mau gambar ah, yang lain donk" tolak-ku. 
"Yaa, aku kan gak punya uang Yah. Aku bikinin kartu aja ya..." Kartu yang dimaksud Daffa adalah selembar kertas yang disobek dari bukunya, kemudian ditulis "Daffa sayang Ayah" atau "Kakak sayang Mimi dan ade Rafi" plus tanpa ketinggalan gambar mobil favoritnya. 

"Ah, sudah banyak kalo kartu mah. Boseeen, yang lain donk Ka" desak-ku, sambil tertawa kecil dalam hati. 
"apa donk Yah, aku nggak tau nih" tanya Daffa sambil merebahkan kepalanya diatas meja. Terdengar pasrah dan sangat-sangat lucu, untuk ukuran anak kecil berusia 7 tahun seperti dirinya. Hehehehe, ternyata mikirnya serius nih. 

"Ya udah kalo gitu yang biasa kakak kerjain setiap hari aja, yang gak usah ngeluarin duit" kataku mencoba membantu memberikan jalan keluar untuk Daffa. 
"Menggambar Yah" jawab Daffa sambil mengangkat kepalanya kemudian bersandar di kursi yang didudukinya. 
"Selain gambar, apalagi Ka ?" tanya-ku terus menggali. 
"Main mobil sama gambar aja Yah !" jawab Daffa setelah berpikir beberapa detik. 

Sementara itu cuaca diluar semakin panas, mobil yang berseliweran sepanjang jalan raya yang menghubungkan Ciledug - Warung Mangga tampak berlari tergesa-gesa menghindari teriknya matahari siang. Samar-samar tercium harumnya aroma daging kambing panggang yang tertiup terbawa angin. Rupanya pembagian daging kurban sudah dilakukan dan pesta sate kambing masal sudah dimulai. 

"Gambar mobil kakak bagus-bagus ya...?" tanyaku kepada Daffa yang keliatan sedang sibuk mikir. Sebuah pertanyaan retorik, huh 
"Iya Yah, bagus - bagus. Si Arul tuh yang sering minta digambarin sama aku" 
"Kok bisa bagus sih gambarnya Ka ?" aku terus kejar, sedikit lagi nih... 
"Aku-kan liat di majalah, Yah. Sama nonton discovery turbo" 
"Terus dari mana lagi, Ka... kok kakak bisa nulis dan nggambar bagus-bagus sih ..?" hihihi, pepet terusss pikirku. 
"Dari sekolah, Yah" 

YESSS ! kena nih ... 

"Emang kakak kalo di sekolah ngapain aja ?" Tanyaku sambil melirik istriku yang sedang memperhatikan obrolan kami dengan muka bingung. 
"Ya, belajar-lah Yah..." 
"Nah, kalo ayah beliin kakak PS-2, Kakak ngasih apa untuk ayah niih ...?" 
sekali lagi aku bertanya dengan pertanyaan yang sama diawal perbincangan. Jebakan batman telah dipasang... treteteeet. 

 Posisi duduk Daffa yang tadinya bersandar, kemudian berubah tegak dengan kedua tangan bersilang diatas meja. 
"Aku mo ngasih nilai yang bagus Yah" jawab Daffa semangat. wakakakakaka, aku tertawa dalam hati. 
 "Nilai yang bagus itu berapa ?" tanyaku lagi. 
"Delapan, sembilan sama sepuluh Yah !. Terus aku mau jadi rangking satu deh !" jawab Daffa sambil mengangkat kedua tangannya keatas. 

Sebuah jawaban luar biasa, bahkan melebihi perkiraanku sebelumnya. 

"ya udah kalo gitu. Nanti kalo kakak nilainya delapan, sembilan, sepuluh dan dapet rangking satu, baru dapet hadiah PS-2 dari ayah..." kataku menyimpulkan. 
"Iya Yah..." jawab Daffa dengan polos 
"Kalau begitu, kita toss dulu donk" kataku sambil mengangkat tangan kanan dan merentangkan telapak-nya, yang segera saja disambut dengan cepat oleh Daffa. 

 Huff, TOSS !!! 

"gimana mi ?" tanyaku kepada istriku yang sedang membereskan isi dompetnya yang berantakan karena dikeluarkan Rafi. 
Sambil geleng-geleng kepala, istriku menjawab "Kok, bisa nyambung ya ?. Aku aja tadi nebak-nebak ini arahnya kemana sih. Pusing ah.." 
"hehehehe, kakak aja gak pusing, masa kamu pusing Mi..." ledek-ku sambil meraih Rafi dari pangkuan istriku dan memeluknya. 
 "Ayo Kak, kita ke rumah engkong sekarang...." 

Kami-pun melanjutkan perjalanan kembali melintasi Jalan raya Cipete menuju Cipondoh dibawah mentari yang semakin terik. 


Cipondoh, 16 November 2010

Cause - Effect

Benigni adalah seorang Yahudi Italia  yang mempunyai seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Mereka tinggal di sebuah zaman ketika terjadi tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah, Perang Dunia II. Suatu masa ketika nasib kaum Yahudi tak lebih baik dari binatang bagi sekelompok kecil manusia.

Malang bagi keluarga kecil tersebut, tentara Nazi menangkap mereka dan kemudian ditempatkan secara terpisah di kamp konsentrasi Autschwitz.  Mereka tidak lagi memiliki kebebasan karena dikurung dalam kamp yang dikelilingi kawat berduri dan dijaga ketat pasukan Nazi serta anjing pemburu yang ganas. Namun, Benigni “mengondisikan” anaknya dengan mengatakan  bahwa mereka sedang bermain dalam kompetisi perang-perangan untuk mendapatkan hadiah tank, sehingga sang anak termotivasi untuk menang.

Sampai suatu saat sang anak merasa bosan dan ingin menghentikan permainan. Dengan wajah sedih dan memelas, Benigni berkata “Baiklah, kita menyerah kalah... dan hadiah tank diambil orang lain” sambil berjalan gontai keluar kamar dengan menenteng perlengkapan milik mereka yang tersisa berupa selimut kumal dan baju kotor.
Tiba-tiba si anak berseru “Tidak, Ayah. Saya ingin memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiah tank !”.

Suatu hari, pasukan Jerman melakukan aksi pembunuhan massal di kamp karena tentara sekutu sudah menguasai kota Autschwitz. Benigni berusaha menyelamatkan keluarganya, Sang anak disembunyikan disebuah peti kayu dengan pesan “ Nak, hari ini adalah puncak permainan. Kita harus menang. Kamu harus bersembunyi dan jangan sampai terlihat oleh siapapun karena semua orang mencarimu. Kamu harus mendapatkan hadiah itu” Lalu, ia bergegas mencari istrinya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Benigni tertangkap pasukan Jerman dan digelandang ke kamar gas dengan senapan ditodongkan ke belakang kepalanya. Ketika melewati peti kayu tempat persembunyian anaknya, Benigni menyadari bahwa anaknya sedang memperhatikan dirinya. Segera saja ia merubah cara berjalannya dengan berjalan tegak sambil memberi hormat layaknya tentara berparade. Sang anak merasa sangat senang.

Dua menit kemudian, terdengar suara senapan menyalak dibalik tembok. Benigni ditembak mati. Sang anak tidak menyadari karena terus bersembunyi, akhirnya tiga jam kemudian sebuah tank datang untuk menyelamatkannya. Ia merasa telah memenangkan permainan itu.


                                                                       oOo

Bilal adalah seorang budak kulit hitam yang harus menanggung siksa dari sang majikan karena  menolak untuk meninggalkan agamanya. Setiap hari Bilal digelandang ke tengah gurun pasir arab yang membara menghanguskan kulit. Bilal ditelentangkan dan tubuhnya ditindih batu batu besar. Walaupun menderita, ketetapan hatinya mampu membuatnya bertahan, dan ia hanya berucap: “ahad...ahad...ahad”. Bertahun – tahun Bilal menerima penyiksaan untuk keyakinannya yang selalu dipegang teguh.

Meski Bilal adalah budak yang tak merdeka secara fisik, tapi para Quraisy tidak pernah bisa merampas kemerdekaan dari hati Bilal. Ia mampu memisahkan fisiknya yang terbelenggu dengan hatinya yang bebas merdeka. Batu besar memang menghimpit badannya, tapi tak mampu membelenggu jiwanya. Bilal adalah raja atas pikiran dan hatinya sendiri.
Sampai suatu hari datang sahabat Rasul, Abu Bakar Siddiq yang membebaskan dirinya dari siksaan sang majikan. Bilal menjadi manusia yang sebenar-benarnya merdeka, baik dalam hati, pikiran dan badannya.


                                                                        oOo

Benigni adalah aktor utama dalam Life is Beautiful, Bilal adalah salah satu tokoh kunci dalam perjuangan rasul pada awal kenabian. Kisah kedua tokoh tersebut menggambarkan dengan gamblang bahwa kita memiliki kebebasan untuk memilih reaksi terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita.

Kita-lah penanggung jawab utama dari sikap yang kita ambil, bukan kambing-kambing hitam yang berkeliaran disekitar kita. Kita adalah cause atau pelaku, bukan korban atau effect. Baik dan buruk  hasil yang kita dapatkan, diri kita sendiri sesungguhnya penentu pilihan tersebut.


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (nasib) satu kaum jika mereka tidak mengubah keadaan nya sendiri ...”
QS Ar Ra’d (13:11)


oleh-oleh ESQ training, Maret 2011

Orang Tua = Kunci Menuju Surga

Suatu hari, Rasulullah naik ke atas mimbar, lalu beliau berkata: “Amin, amin, amin.”
Kontan, seorang Sahabat bertanya: “Kenapa engkau mengucapkan amin, amin dan amin, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Tadi datang Jibril menemuiku, lalu ia berkata: “Barangsiapa yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan Allah, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’

Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendapatkan salah seorang dari kedua orang tuanya, atau keduanya, pada saat mereka sudah berusia lanjut, namun ia tidak berkesempatan berbakti kepada mereka, maka ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin.’

Lalu Jibril berkata lagi: “Barangsiapa yang mendengar namaku (Nabi Muhammad) disebutkan, lalu ia tidak membaca shalawat untukku, maka bila ia mati, ia pasti masuk Neraka. Jauhilah hamba-Mu ini dari siksa Neraka.” Akupun berkata: ‘Amin...

****

Didalam Islam, memuliakan orang tua adalah sebuah kewajiban dengan urgensi yang demikian tiggi. Bahkan Allah "menggandengkan" kewajiban untuk beribadah kepada-Nya dengan kewajiban untuk berbakti kepada orang tua.
Seperti yang ditegaskan dalam Al Qur'an :

Allah telah menetapkan agar kalian tidak beribadah melainkan kepada-Nya; dan hendaklah kalian berbakti kepada kedua orang tua.” (Al-Israa : 23)

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah yang dilakukan terhadap Allah berkomplementer dengan kesungguhan kita berbakti kepada kedua orang tua. Tidak ada kesempurnaan yang dapat diraih tanpa melalui keduanya.

Dalam dalil yang lain disebutkan :

Kalau mereka berupaya mengajakmu berbuat kemusyrikan yang jelas-jelas tidak ada pengetahuanmu tentang hal itu, jangan turuti; namun perlakukanlah keduanya secara baik di dunia ini.” (Luqmaan : 15)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Ayat di atas menunjukkan diharuskannya memelihara hubungan baik dengan orang tua, meskipun dia kafir. Yakni dengan memberikan apa yang mereka butuhkan. Bila mereka tidak membutuhkan harta, bisa dengan cara mengajak mereka masuk Islam..“

Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan :
Orang tua adalah ‘pintu pertengahan’ menuju Surga. Bila engkau mau, silakan engkau pelihara. Bila tidak mau, silakan untuk tidak memperdulikannya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan beliau berkomentar, “Hadits ini shahih)

Masih banyak lagi dalil - dalil lain yang memperkuat mengenai kewajiban seorang anak untuk memuliakan orang tuanya. Pertanyaan besarnya adalah, bagaimanakah adab yang baik terhadap orang tua kita ?

Dibawah ini paparan mengenai adab seorang anak terhadap orang tuanya :

1. Bersikaplah secara baik, pergauli mereka dengan cara yang baik pula, yakni dalam berkata-kata, berbuat, memberi sesuatu, meminta sesuatu atau melarang orang tua melakukan suatu hal tertentu.
2. Jangan mengungkapkan kekecewaan atau kekesalan, meski hanya sekadar dengan ucapan ‘uh’. Sebaliknya, bersikaplah rendah hati, dan jangan angkuh.
3. Jangan bersuara lebih keras dari suara mereka, jangan memutus pembicaraan mereka, jangan berhohong saat beraduargumentasi dengan mereka, jangan pula mengejutkan mereka saat sedang tidur, selain itu,jangan sekali-kali meremehkan mereka.
4. Berterima kasih atau bersyukurlah kepada keduanya, utamakan keridhaan keduanya, dibandingkan keridhaan kita diri sendiri, keridhaan istri atau anak-anak kita.
5. Lakukanlah perbuatan baik terhadap mereka, dahulukan kepentingan mereka dan berusahalah ‘memaksa diri’ untuk mencari keridhaan mereka.
6. Rawatlah mereka bila sudah tua, bersikaplah lemahlembut dan berupayalah membuat mereka berbahagia, menjaga mereka dari hal-hal yang buruk, serta menyuguhkan hal-hal yang mereka sukai.
7. Berikanlah nafkah kepada mereka, bila memang dibutuhkan. Allah berfirman:
Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang tua, lalu karib kerabat yang terdekat.” (Al-Baqarah : 215)
8. Mintalah ijin kepada keduanya, bila hendak bepergian, termasuk untuk melaksanakan haji, kalau bukan haji wajib, demikian juga untuk berjihad, bila hukumnya fardhu kifayah.
9. Mendoakan mereka, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an:
Dan ucapanlah, “Ya Rabbi, berikanlah kasih sayang kepada mereka berdua, sebagaimana menyayangiku di masa kecil.” (Al-Isra : 24)[8]

Semua hal di atas bukanlah ’segalanya’ dalam upaya berbuat baik terhadap orang tua. Kita teramat sadar, bahwa ‘hak-hak’ orang tua, jauh lebih besar dari kemampuan kita membalas kebaikan mereka. Mungkin lebih baik kita tidak usah terlalu berbangga diri, kalaupun segala hal diatas telah dapat kita wujudkan dalam kehidupan nyata. Karena orang tua adalah manusia yang pertama kali berbuat baik kepada kita, karena dorongan kasih sayang dan –terlebih-lebih– penghambaan dirinya kepada Allah. Sementara kita hanya memberi balasan, setelah terlebih dahulu kita menerima kebaikan dari mereka. Sehingga, bagaimanapun, nilainya jelas akan berbeda.

Medang, 17 Juli 2011
Dari berbagai sumber