Benigni adalah seorang Yahudi Italia yang mempunyai seorang istri
dan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Mereka tinggal di sebuah
zaman ketika terjadi tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah, Perang
Dunia II. Suatu masa ketika nasib kaum Yahudi tak lebih baik dari
binatang bagi sekelompok kecil manusia.
Malang bagi
keluarga kecil tersebut, tentara Nazi menangkap mereka dan kemudian
ditempatkan secara terpisah di kamp konsentrasi Autschwitz. Mereka
tidak lagi memiliki kebebasan karena dikurung dalam kamp yang
dikelilingi kawat berduri dan dijaga ketat pasukan Nazi serta anjing
pemburu yang ganas. Namun, Benigni “mengondisikan” anaknya dengan
mengatakan bahwa mereka sedang bermain dalam kompetisi perang-perangan
untuk mendapatkan hadiah tank, sehingga sang anak termotivasi untuk
menang.
Sampai suatu saat sang anak merasa bosan dan ingin
menghentikan permainan. Dengan wajah sedih dan memelas, Benigni berkata
“Baiklah, kita menyerah kalah... dan hadiah tank diambil orang lain”
sambil berjalan gontai keluar kamar dengan menenteng perlengkapan milik
mereka yang tersisa berupa selimut kumal dan baju kotor.
Tiba-tiba si anak berseru “Tidak, Ayah. Saya ingin memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiah tank !”.
Suatu
hari, pasukan Jerman melakukan aksi pembunuhan massal di kamp karena
tentara sekutu sudah menguasai kota Autschwitz. Benigni berusaha
menyelamatkan keluarganya, Sang anak disembunyikan disebuah peti kayu
dengan pesan “ Nak, hari ini adalah puncak permainan. Kita harus menang.
Kamu harus bersembunyi dan jangan sampai terlihat oleh siapapun karena
semua orang mencarimu. Kamu harus mendapatkan hadiah itu” Lalu, ia
bergegas mencari istrinya.
Untung tak dapat diraih, malang
tak dapat ditolak. Benigni tertangkap pasukan Jerman dan digelandang ke
kamar gas dengan senapan ditodongkan ke belakang kepalanya. Ketika
melewati peti kayu tempat persembunyian anaknya, Benigni menyadari bahwa
anaknya sedang memperhatikan dirinya. Segera saja ia merubah cara
berjalannya dengan berjalan tegak sambil memberi hormat layaknya tentara
berparade. Sang anak merasa sangat senang.
Dua menit
kemudian, terdengar suara senapan menyalak dibalik tembok. Benigni
ditembak mati. Sang anak tidak menyadari karena terus bersembunyi,
akhirnya tiga jam kemudian sebuah tank datang untuk menyelamatkannya. Ia
merasa telah memenangkan permainan itu.
oOo
Bilal
adalah seorang budak kulit hitam yang harus menanggung siksa dari sang
majikan karena menolak untuk meninggalkan agamanya. Setiap hari Bilal
digelandang ke tengah gurun pasir arab yang membara menghanguskan kulit.
Bilal ditelentangkan dan tubuhnya ditindih batu batu besar. Walaupun
menderita, ketetapan hatinya mampu membuatnya bertahan, dan ia hanya
berucap: “ahad...ahad...ahad”. Bertahun – tahun Bilal menerima
penyiksaan untuk keyakinannya yang selalu dipegang teguh.
Meski
Bilal adalah budak yang tak merdeka secara fisik, tapi para Quraisy
tidak pernah bisa merampas kemerdekaan dari hati Bilal. Ia mampu
memisahkan fisiknya yang terbelenggu dengan hatinya yang bebas merdeka.
Batu besar memang menghimpit badannya, tapi tak mampu membelenggu
jiwanya. Bilal adalah raja atas pikiran dan hatinya sendiri.
Sampai
suatu hari datang sahabat Rasul, Abu Bakar Siddiq yang membebaskan
dirinya dari siksaan sang majikan. Bilal menjadi manusia yang
sebenar-benarnya merdeka, baik dalam hati, pikiran dan badannya.
oOo
Benigni
adalah aktor utama dalam Life is Beautiful, Bilal adalah salah satu
tokoh kunci dalam perjuangan rasul pada awal kenabian. Kisah kedua tokoh
tersebut menggambarkan dengan gamblang bahwa kita memiliki kebebasan
untuk memilih reaksi terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita.
Kita-lah
penanggung jawab utama dari sikap yang kita ambil, bukan
kambing-kambing hitam yang berkeliaran disekitar kita. Kita adalah cause
atau pelaku, bukan korban atau effect. Baik dan buruk hasil yang kita
dapatkan, diri kita sendiri sesungguhnya penentu pilihan tersebut.
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (nasib) satu kaum jika mereka tidak mengubah keadaan nya sendiri ...”
QS Ar Ra’d (13:11)
oleh-oleh ESQ training, Maret 2011

No comments:
Post a Comment