Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi.
Namun jiwa tetap ada di tangan cinta...
terus hidup...
sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan...


(Kahlil Gibran)

Tuesday, June 5, 2012

Cause - Effect

Benigni adalah seorang Yahudi Italia  yang mempunyai seorang istri dan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Mereka tinggal di sebuah zaman ketika terjadi tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah, Perang Dunia II. Suatu masa ketika nasib kaum Yahudi tak lebih baik dari binatang bagi sekelompok kecil manusia.

Malang bagi keluarga kecil tersebut, tentara Nazi menangkap mereka dan kemudian ditempatkan secara terpisah di kamp konsentrasi Autschwitz.  Mereka tidak lagi memiliki kebebasan karena dikurung dalam kamp yang dikelilingi kawat berduri dan dijaga ketat pasukan Nazi serta anjing pemburu yang ganas. Namun, Benigni “mengondisikan” anaknya dengan mengatakan  bahwa mereka sedang bermain dalam kompetisi perang-perangan untuk mendapatkan hadiah tank, sehingga sang anak termotivasi untuk menang.

Sampai suatu saat sang anak merasa bosan dan ingin menghentikan permainan. Dengan wajah sedih dan memelas, Benigni berkata “Baiklah, kita menyerah kalah... dan hadiah tank diambil orang lain” sambil berjalan gontai keluar kamar dengan menenteng perlengkapan milik mereka yang tersisa berupa selimut kumal dan baju kotor.
Tiba-tiba si anak berseru “Tidak, Ayah. Saya ingin memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiah tank !”.

Suatu hari, pasukan Jerman melakukan aksi pembunuhan massal di kamp karena tentara sekutu sudah menguasai kota Autschwitz. Benigni berusaha menyelamatkan keluarganya, Sang anak disembunyikan disebuah peti kayu dengan pesan “ Nak, hari ini adalah puncak permainan. Kita harus menang. Kamu harus bersembunyi dan jangan sampai terlihat oleh siapapun karena semua orang mencarimu. Kamu harus mendapatkan hadiah itu” Lalu, ia bergegas mencari istrinya.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Benigni tertangkap pasukan Jerman dan digelandang ke kamar gas dengan senapan ditodongkan ke belakang kepalanya. Ketika melewati peti kayu tempat persembunyian anaknya, Benigni menyadari bahwa anaknya sedang memperhatikan dirinya. Segera saja ia merubah cara berjalannya dengan berjalan tegak sambil memberi hormat layaknya tentara berparade. Sang anak merasa sangat senang.

Dua menit kemudian, terdengar suara senapan menyalak dibalik tembok. Benigni ditembak mati. Sang anak tidak menyadari karena terus bersembunyi, akhirnya tiga jam kemudian sebuah tank datang untuk menyelamatkannya. Ia merasa telah memenangkan permainan itu.


                                                                       oOo

Bilal adalah seorang budak kulit hitam yang harus menanggung siksa dari sang majikan karena  menolak untuk meninggalkan agamanya. Setiap hari Bilal digelandang ke tengah gurun pasir arab yang membara menghanguskan kulit. Bilal ditelentangkan dan tubuhnya ditindih batu batu besar. Walaupun menderita, ketetapan hatinya mampu membuatnya bertahan, dan ia hanya berucap: “ahad...ahad...ahad”. Bertahun – tahun Bilal menerima penyiksaan untuk keyakinannya yang selalu dipegang teguh.

Meski Bilal adalah budak yang tak merdeka secara fisik, tapi para Quraisy tidak pernah bisa merampas kemerdekaan dari hati Bilal. Ia mampu memisahkan fisiknya yang terbelenggu dengan hatinya yang bebas merdeka. Batu besar memang menghimpit badannya, tapi tak mampu membelenggu jiwanya. Bilal adalah raja atas pikiran dan hatinya sendiri.
Sampai suatu hari datang sahabat Rasul, Abu Bakar Siddiq yang membebaskan dirinya dari siksaan sang majikan. Bilal menjadi manusia yang sebenar-benarnya merdeka, baik dalam hati, pikiran dan badannya.


                                                                        oOo

Benigni adalah aktor utama dalam Life is Beautiful, Bilal adalah salah satu tokoh kunci dalam perjuangan rasul pada awal kenabian. Kisah kedua tokoh tersebut menggambarkan dengan gamblang bahwa kita memiliki kebebasan untuk memilih reaksi terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita.

Kita-lah penanggung jawab utama dari sikap yang kita ambil, bukan kambing-kambing hitam yang berkeliaran disekitar kita. Kita adalah cause atau pelaku, bukan korban atau effect. Baik dan buruk  hasil yang kita dapatkan, diri kita sendiri sesungguhnya penentu pilihan tersebut.


“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah (nasib) satu kaum jika mereka tidak mengubah keadaan nya sendiri ...”
QS Ar Ra’d (13:11)


oleh-oleh ESQ training, Maret 2011

No comments:

Post a Comment